Disclaimer:
Tulisan ini merupakan point of view dari aku, sebagai orang Indonesia yg sempat main kesana dan cobain hidup beberapa waktu sebagai local person dan hasil research ngobrol bersama teman-teman WNI yg sudah lebih dulu tinggal di sana. Mungkin kalau ada yg punya pengalaman lain dan stay lebih lama disana, monggo di share juga :)
Hai, kalian warga Indonesia yg mau main ke Norwegia atau Norway pasti salah satu tujuannnya untuk hunting Aurora, yakaaannn? Sebelum kalian main kesana, mungkin tulisan sederhana ku ini bisa membuat kalian lebih mempersipakan mental dan juga outfit yg sesuai :)
Mungkin kalian sudah sering baca tulisan lainnya tentang beberapa hal yg menarik di sosial media, namun aku ingin share dari sisi lain yg jarang orang bahas, mari kita mulai..
1. Jangan samakan Norwegia seperti negara di Eropa lainnya
Yes! Eropa itu luas shayyy, yg kita sering lihat (di IG Story netizen) pasti belahan Eropa semacam Paris, Jerman dan Swiss kan yg tempat wisatanya sudah mainstream. Please, lupakan itu kalau ke Norwe. Karena beda bgt. Kalau di 3 tempat tadi, banyak yg pakai mantel bulu dan sepanjang jalan di public area sudah seperti di catwalk, di sini boro-boro, hahaha..
Penduduk di sini lebih memilih memakai outfit sesuai dengan cuaca sehari-hari disana yg mayoritas dingin sepanjang tahun dan didominasi warna hitam, kelabu dan navy. Apa itu mantel bulu? Mereka lebih memilih jaket tebat yg dapat menghadang suhu dingin.
Disana ada pepatah yg mengatakan: "tidak ada cuaca yg buruk, hanya pakaianmu yg salah"
Please consider about your outfit. takutnya heboh sendirim niatnya mau ootd ala-ala malah masuk angin ~
2. Perhatikan waktu kamu berkunjung
Di Norwegia hampir sepanjang tahun dingin, bahkan musim gugur salju sudah datang (ini yg aku alami ketika berkunnjung kesana sekitar bulan Oktober) atau bahkan sudah musim semi (ketika bulan April) masih ada salju kadang datang dan pergi. Di Norwegia (terutama di Oslo, ibu kota negaranya) matahari bersinar cerah dan agak lama hanya ketika musim panas (pertengahan tahun), tapi panas disini yaa adem buat orang Indonesia, mungkin suhu sekitar 25 derajat dan disini puncaknya turis datang, sekitaran Sentrum akan ramai sekali dengan etnis multikultural.
Tips: cek secara berkala di aplikasi Weather di HP kalian dari beberapa hari sebelum keberangkatan. Ga 100% akurat senggaknya ada gambaran aja, ini sudah aku lakukan H-2 minggu sebelum flight tetep aja ga expect ada salju di Oktober haha..
3. Orang Skandinavia kurang ramah?
Katanya begitu yaa, orang disana terutama cowoknya, cool gitu dan cenderung introvert (tapi ini yg buat beberapa temanku naksir sama cowok sana haha)
Faktanya mereka baik juga kok, ketika aku lagi sendiri terkadang suka disapa oleh local people sana terutama oleh sesama Muslim, karena aku memakai hijab (yg disana minoritas) jadi kadang disapa oleh hijabers lainnya maupun lelaki disana, dengan sapaan "Assalamualaikum, Sister" Masya Allah, hati meleyot dan terasa hangat di tengah dinginnya udara.
Kenapa mereka terkesan "kaku" sehingga terlihat kurang ramah? Karena dingin. Simple.
Pengalamanku kalau beraktivitas di ruangan terbuka membuat kulit menjadi beku walau sudah pakai pakaian hangat, itu membuat wajah kaku dan bibir menjadi kering (harus sering pakai lip balm) mau senyum aja susah apalagi berbicara basa basi sama stranger dan pengen buru-buru sampai ke rumah, sampai sini paham kan?
4. Pakai skincare local
Skincare yg kita bawa dari Indonesia, kurang berguna disini. Simply karena memang skincare kita memang ditujukan untuk iklim tropis dan disini dingin banget sehingga membuat kulit menjadi kering, bahkan kulit wajah dan badanku menjadi mengelupas saking keringnya. Saranku belilah skincare local yg dijual disana karena pasti sudah disesuaikan dengan kondisi disana. Untuk lip balm aku pakai merk BURT'S BEE (ini buatan Canada yg iklim disana kan mirip seperti di Skandinavia) dan untuk wajah dan. badan pakai La Roche Posay, banyak jualnya di drug store atau toko kosmetik di Oslo S maupun Oslo Mall. Dan tentunya beli ini di luar budget jadi beli aja kemasan kecil (kalau sebentar disini), please prepare :)
Sebenarnya balik lagi kecocokkan kulit kita yaa, waktu disana kebetulan langsung cocok, Alhamdulillah less drama..
5. Mau lihat Aurora bukan di Oslo
Sekali lagi, bisa mendapat kesempatan melihat Aurora adalah keberuntungan (apalagi kalau di Oslo). Perhatikan waktu berkunjung, konon katanya Aurora suka muncul antara bulan Oktober hingga April (aku kesini di periode ini) dan hanya mendapat kesempatan melihat Aurora tipis-tipis itu juga di H-1 kembali ke Jakarta :)
Kesempatan melihat Aurora lebih besar kalau kita main ke utara, yaitu ke Tromsø sekitar 2 jam flight dari Oslo, disini ada tour untuk hunting Aurora dengan menggunakan mobil, bus hingga boat (ada harga ada rupa ya) dan ga cukup sehari, minimal 5 hari disini jg belum tentu terlihat. Tapi di Tromsø ada beberapa experience lainnya kok seperti naik kereta bareng Rusa Artik yg cuma ada disana ataupun bertemu suku Sami, suku asli Norwegia dan belajar budaya mereka. Perlu di hitung ulang lagi budgetnya, ke Norway aja sudah mahal, tambah lagi ke Tromsø :D
Cek Aurora di aplikasi Aurora Maps, setiap malam aku cek mulu, bahkan bikin alarm tengah malam demi cek maps, segitunya, Bismillah ada kesempatan balik lagi kesana.
6. Oslo, ibu kota yang cukup sepi
Jika dibandingkan dengan negara lainnya di Skandinavia, Oslo adalah ibu kota negara yg relatif sepi (please jangan dibandingkan dengan Indonesia), walau katanya Oslo adalah kota paling ramai se-Norway tapi tetep aja sepi buat ukuran capital city haahha.. Namun, walau sepi transportasi disini amat sangat ramah turis dan nyaman. Semua moda transportasi terintegrasi, di Oslo S (Oslo Sentralstasjon) dari metro (kereta bawah tanah), train dalam kota, bus hingga kereta antar kota semua ada disini, untuk tourist aku rekomendasikan beli aja tiket terusan yg seminggu atau sebulan jadi bebas mau kemana aja selama masih sesuai zona.
Foto di Royal Palace Oslo, sepi bgt Istana negaranya..
Konon, Oslo ini "baru" di "make-up" semenjak Norway menemukan tambang minyak, sehingga menjadi negara Orang Kaya Baru (OKB) banyak bebenah namun tetap bangunan tua-nya di rawat dengan baik dan tidak ada gedung pencakar langit disini. Sejauh ini saya betah di Oslo, ahh jadi kangen :')
7. Makanan mahal
Yup, semua disini mahal hahaha.. Makanan mau makan di resto maupun kaki lima harganya mirip. Jadi mengakalinya dengan cara mau ga mau yaa memasak sendiri di rumah. Untuk bahan makanan sebagai orang Indonesia saya rekomendasi bisa belanja di Asia Market di Grøland (https://g.co/kgs/JgaxhtT)
Disini ada Indomie (beberapa pabrikan Eropa tapi saya lebih suka yg ini less mecin haha..) bahkan saos sambal dari Indonesia juga ada, namun jangan kaget dengan harganya yah, tidak cocok untuk kaum mendang mending hiks, tapi saya pastikan yg sudah bisa sampai kesini pasti dari kalangan yg mampu lol, tapi kalau mau jajan biasanya aku di Kiwi yang banyak tersebar di seluruh penjuru Norway.
PS: Puasin makan Salmon Norway disini.
8. Fjord
Fjord adalah teluk yang berasal dari lelehan gletser. Asli ini bagus bangetttt.. Kalau di Oslo ada mini fjord yang bisa di akses dengan cruise dari pelabuhan di daerah Aker Brygge.
Aku sarankan kalau mau lihat fjord lebih luas kalian naik kereta ke Bergen dan pas berangkat duduk di sisi kiri dari laju kereta dan pulangnya duduk di sisi kanan. Sebenarnya keduanya sama bagusnya tapi lebih banyak di sebelah kiri, 8 jam perjalanan tidak membosankan dan rugi banget kalau tidur.
9. Di Oslo ada masjid
Sebagai umat muslim, kalau lagi ke luar negeri dan negara minoritas muslim, aku sempatkan untuk berkunjung ke Masjid di Oslo, waktu kesana hanya aku yg org Indonesia dan mayoritas disini yg beribadah orang Pakistan gitu, saranku bawa mukena yah, karena mukena stok disini agak beda sama mukena yg biasa kita pakai sehari-hari di Indonesia. Masjid ini juga cukup ramai, ketika solat Ashar mungkin ada sekitar 20-30 orang (total jamaah laki-laki dan wanita), tempat wudhunya bersih dan toilet disini ada bidet (finally, susah bgt nyari toilet yg ada bidetnya)
10. Toilet tidak ada bidet
Sama seperti di mayoritas negara Eropa lainnya, toilet disini (bahkan di rumah sewa yang saya tinggali dan beberapa hotel yang saya singgahi) tidak ada bidet atau keran air untuk "bebersih" di toiletnya. Buat orang Indonesia yg berasa ga bersih kalau ke toilet tidak menggunakan air, pasti berasa risih, solusinya bawa pidet portable aja guys, beli di toko oren , problem solve.
Sekiranya segini dulu yaa ceritanya, sebenarnya masih ada beberapa lagi nanti kalau banyak yg baca aku sambung di part 2, kalau mau ngobrol lebih lanjut bisa hubungi aku via sosial media atau email yah..
Bismillah dibaca sama @indonesiainoslo, mau banget bapak/ibu KBRI di undang untuk stay disana, aku betahhhh #kaburajadulu, ready balik lagi untuk menetap di Norway :)